PEMBUATAN PETA RUPABUMI

Posted: April 18, 2012 in Uncategorized

Belakangan ini, berbagai komponen data statistik akan memiliki nilai bila mampu ditampilkan dalam bentuk spasialnya. Berbagai upaya pemetaan saat ini semakin berkembang pesat. Pengolahan peta secara digital pun semakin canggih. Banyaknya software geografi yang beredar di pasaran, semakin menambah perbendaharaan seorang geograf dalam membuat variasi prosedur pemetaan sesuai dengan program yang digunakan untuk mengolah peta. Setiap program pemetaan tersebut memiliki keunggulan dan keterbatasan tersendiri dalam pengolahan data spasialnya. Berbagai keunggulan dan kelemahan tersebut dapat dipadu-padankan sehingga mampu memperoleh berbagai kemudahan dalam pengolahan data spasial ini. Seperti halnya, pada praktikum digital ini telah digunakan program ArcView, ArcInfo, dan MapInfo. Dengan berbagai keunggulan dan keterbatasan pada masing-masing program, mampu memperoleh hasil pemetaan data spasial yang paling baik. Ketiga program yang telah cukup akrab dengan seorang geograf dalam pengolahan peta, semakin mempermudah berlangsungnya kegiatan praktikum kali ini.

Dengan perkembangan teknologi komputer yang semakin pesat menyebabkan banyak disiplin ilmu yang menggunakan sarana tersebut, sebagai contohnya disiplin ilmu Kartografi, yakni ilmu yang mempelajari tentang pembuatan peta. Computer-assisted cartography telah dipilih sebagai ungkapan yang umum yang dipakai dalam segala aspek kartografi dimana komputer dipergunakan sebagai alat.  International Cartographic Assosiation (I.C.A.) semula mempergunakan ungkapan ‘automated cartography’ dan telah memproduksi Glossary of Automation Terms in Cartography (I.C.A., 1976).  Meskipun ungkapan tersebut semakin luas dipergunakan, tetapi tidak ada yang disebut dengan ‘automated cartography’.  Hal ini dinyatakan benar bahwa banyak dalam pembuatan peta yang menggunakan proses otomatis sebelum dihasilkan dalam bentuk akhir (hardcopy),  sebagian orang mempergunakan teknologi komputer; tetapi komputer sendiri tidak akan pernah menggantikan secara total tugas seorang kartografer.  Bagaimanapun komputer hanya mempermudah kartografer dalam pekerjaan yang rumit, banyak, dan berulang-ulang, selain itu manfaat dari penggunaan komputer antara lain untuk menghemat waktu, dan sebagai alat bantu dalam memanipulasi.  Ungkapan Automated Cartography sendiri menyarankan bahwa manusia secara total diganti oleh mesin (komputer) ; computer-assisted cartography menyatakan bahwa mesin dipergunakan untuk berkreasi dan memanipulasi oleh cartografer, keduanya memiliki filosofi dan metode yang sama-sama menguntungkan.

Peta yang dihasilkan sekarang, ada dua perbedaan tipe dari computer-assisted cartography yaitu automated mapping dan computer mappingAutomated mapping (pembuatan peta secara otomatis) memiliki pengertian yaitu sebagai otomatisasi dari proses pembuatan peta dengan tujuan untuk menghasilkan peta yang tidak memiliki perbedaan jauh dari bentuk (style), desain, dan isi asalnya yaitu peta topografi / peta asal.  Computer mapping, dapat didefinisikan yaitu sebagai suatu produksi peta yang segala langkah yang dilalui akan dilakukan dengan semua kemampuan komputer.  Hasil yang diberikan biasanya merupakan peta tematik atau peta sosial ekonomi yang jarang dapat diperoleh nilai keakurasian yang tinggi dibandingkan dengan hasil dari automated mapping juga sangat berbeda dari hasil peta konvensional.  Walaupun kedua sistem pemetaan tersebut dibedakan, tetapi kedua sistem tersebut merupakan satu rangkaian pada akhirnya.  Ada beberapa sistem yang mengkombinasi elemen dari keduanya, dan secara teoritis dapat menambahkan perintah-perintah dalam computer mapping ke automated mapping atau sebaliknya.

Prosedur yang digunakan sama seperti prosedur pengolahan peta digital lainnya. Seperti halnya: input data, desain data, penyusunan database, desain simbol, layout, dan desiminasi (cetak). Tiap langkah memiliki tingkat kemudahan pengolahan yang berbeda-beda. Taraf kesulitan yang diperoleh pun setara dengan hasil tampilan yang semakin baik. Semakin sulit dan lama suatu prosedur pengolahan, maka semakin tinggi pula nilai hasil yang diperoleh.

Berbagai fenomena di permukaan bumi, baik fenomena fisik dan sosial menuntut agar mampu dipetakan secara digital. Baik fenomena yang ditampilkan dalam bentuk non dimensi (titik/ lokasi), satu dimensi (garis), dan dua dimensi (ruang). Selain itu, tampilan atribut simbol hingga layout peta harus benar-benar diperhatikan agar mampu menarik minat pengguna peta untuk memanfaatkan peta yang telah diolah ini.

A.    Teknik Konversi Data Analog ke Data Digital dalam kartografi digital

Perkembangan teknologi telah membawa dampak terhadap berbagai disiplin ilmu, termasuk bidang kartografi. Sebagai ilmu dan seni tentang pembuatan peta termasuk kajiannya sebagai dokumen ilmiah maupun karya seni, perkembangan teknologi khususnya teknologi komputer telah memacu perkembangan kartografi yang kemudian memunculkan istilah kartografi digital. Secara sederhana, kartografi digital dapat diartikan sebagai penggunaan teknologi komputer dalam ilmu kartografi (Robinson et all, 1995)

Teknologi komputer sangat membantu kartografer dalam melaksanakan tugasnya, seperti: desain peta (map design), desain simbol (symbol design), isi peta (map content), tata letak peta (map lay-out), dan generalisasi (generalization). Komputer memberikan suatu alternative yang bersifat mutakhir dalam metode pembuatan peta dibandingkan dengan metode manual dan fotomekanikal. (Robinson et all, 1995)

Pembuatan peta dengan memanfaatkan teknologi komputer, dalam prakteknya, masih tetap memanfaatkan peta-peta manual yang merupakan produk dari kartografi “tradisional”. Melalui proses yang bisa disebut sebagai proses digitalisasi, peta-peta manual (analog) dikonversi menjadi layer-layer data digital yang menjadi “bahan” pembuatan peta digital.

Hasil dari proses digitalisasi, yaitu data digital, dapat disimpan dalam dua format yang berbeda yaitu raster dan vector. Kedua format data digital tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan, namun perkembangan teknolog telah memungkinkan konversi dari kedua format dilakukan dalam waktu yang cepat sehingga perbedaan antara keduanya tidak perlu dipermasalahkan. Pembahasan yang ada dalam praktikum ini dibatasi pada data digital dalam format vector.

Proses konversi data analog menjadi data digital, seiring dengan perkembangan perangkat keras dan perangkat lunak komputer, dapat dilakukan dengan berbagai cara. Secara garis besar proses konversi dari data analog menjadi data digital dapat dibedakan menjadi dua cara yaitu: cara manual dan automatis. Cara manual (ada yang menyebut sebagai cara manual konvensional) umumnya dilakukan dengan bantuan suatu interface yang biasa disebut digitizer. Adanya alat yang disebut dengan scanner, memungkinkan cara manual dilakukan tanpa menggunakan digitizer tapi dengan suatu teknik yang disebut digitasi on screen (disebut pula head up digitizing technique). Scanner, dengan bantuan perangkat lunak tertentu, juga memunculkan suatu teknik digitasi secara automatis (automated digitizing technique).

Teknik konversi data dari analog menjadi data digital seperti diuraikan di atas, masing-masing tentu mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihan yang ada pada satu teknik dapat digunakan untuk menutupi kekurangan pada teknik yang lain. Penguasaan terhadap teknik-teknik tersebut akan memberikan fleksibilitas yang lebih tinggi dalam proses konversi data analog menjadi data digital dengan mempertimbangkan alat yang tersedia. Digitasi on screen yang dilakukan dapat menggunakan software map info, ataupun melakukan digitasi automatis dengan software R2V.

B.  Desain dan penentuan jenis simbol dalam kartografi digital

Peta sebagai suatu produk kartografi dapat menyajikan berbagai karakteristik geografis yang penting dengan cara yang mudah dimengerti, menarik dan efisien. Cara dan proses dalam penyajian tersebut yang disebut dengan simbolisasi/ Symbolization (Robinson et all, 1994). Sesuai dengan istilahnya, maka salah satu proses penting dalam simbolisasi adalah desain simbol itu sendiri.

Desain simbol dalam kartografi pada prinsipnya dilakukan dengan memperhatikan dua aspek penting yaitu tingkatan data (level of measurement) dan dimensi datanya (dimensionality). Dimensi data secara geografis dapat dibedakan menjadi tiga yaitu dimensi nominal, ordinal, interval, dan rasio. Berdasarkan dua aspek penting tersebut (level of measurement dan dimensionality) akan diperoleh data dengan banyak kombinasi, sehingga diperlukan lebih dari satu unsur untuk membuat simbolnya.

Unsur-unsur yang digunakan dalam mendesain simbol dikenal dengan sebutan variabel visual. Dalam kartografi “konvensional” ada 6 variabel visual yang digunakan dalam mendesain simbol, yaitu : bentuk (shape), ukuran (size), kepadatan (density), arah (orientation), nilai (value), dan warna (colour). Satu variabel visual dapat ditambahkan yaitu lokasi atau posisi, sehingga ada 7 variabel yang dapat digunakan.

Secara sederhana, desain simbol dapat dimulai dengan memperhatikan dimensi data yang akan disajikan (titik, garis, area), simbol yang akan digunakan harus sesuai dengan dimensi datanya. Bentuk simbol yang telah ditentukan, selanjutnya dapat digambarkan dengan dua cara yaitu abstrak dan piktorial. Pertimbangan selanjutnya adalah tingkatan data (nominal, ordinal, interval, rasio) dan sifat datanya (qualitatif, quantitatif). Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, sebagai contoh, dapat ditentukan bahwa simbol yang akan dibuat adalah simbol titik yang digambarkan secara abstrak mewakili data yang sifatnya kualitatif dan tingkatan datanya nominal. Simbol tersebut selanjutnya diwujudkan dengan bantuan variabel visual. Gambar berikut merupakan contoh simbol yang didesain menurut dimensi, variabel visual, dan persepsi untuk simbol abstrak.

Penggunaan komputer dalam pemetaan digital, memungkinkan bertambahnya variabel visual yang digunakan untuk mendesain simbol. Dengan komputer, variabel visual warna dapat dibedakan lagi berdasarkan dimensi dari warna itu sendiri yang tersusun dari Hue, Brightnes, dan Saturation. Dengan bertambahnya variabel visual yang dapat digunakan, variasi simbol yang dapat dibuat akan semakin banyak.

C. Proses generalisasi

Proses generalisasi dalam pembuatan peta yaitu pemilihan dan penyederhanaan elemen-elemen pada peta. Generalisasi muncul karena bertambahnya kepadatan isi peta oleh reduksi skala dan terbatasnya kemampuan mata dalam melihat ukuran minimum pada peta. Generalisasi berkaitan erat dengan skala peta dan tujuan pembuatan peta. Pada dasarnya, generalisasi dikelompokkan menjadi dua, yaitu generalisasi geometrik (penyederhanaan bentuk) dan generalisasi konseptual (penyederhanaan subyek yang dipetakan). Aspek generalisasi terdiri dari pemilihan, penyederhanaan, penghilangan, pembesaran, pergeseran tempat, menitikberatkan, kombinasi, dan klasifikasi. Sedangkan cara generalisasi dapat dilakukan secara langsung pada peta yang telah dikecilkan, peta asli sebelum dikecilkan, atau dengan skala perantara.

D. Layout peta dalam kartografi digital

Sebagai bagian dari karya seni, tampilan suatu peta memiliki arti yang penting. Tampilan yang bagus akan menarik pembaca peta untuk melihat dan selanjutnya berusaha mengetahui isi dari peta yang kita buat, sehingga tujuan dari pembuatan peta itu sendiri, yaitu memberikan informasi yang bereferensi spasial dapat tercapai.

Tampilan peta atau yang lebih dikenal dengan tata letak (lay-out) peta. Pada dasarnya, lay-out adalah cara penempatan unsur yang dipetakan beserta unsur-unsur kartografis lainnya. Unsur-unsur kartografis lain yang dimaksud adalah judul peta, skala peta, legenda/ keterangan tentang isi peta, petunjuk lokasi peta (inzet), dan unsur penting lainnya. Penempatan unsur-unsur tersebut beserta dengan isi peta, selain memperhatikan faktor estetika juga harus memperhatikan faktor kemudahan bagi pembaca untuk memahami isi dari peta.

Penggunaan komputer dalam kartografi sangat membantu kartografer untuk merancang tata letak peta. Perubahan terhadap suatu hasil rancangan dapat dilakukan dengan cepat sehingga desain yang menarik pun lebih mudah dihasilkan.

E. Diseminasi hasil dalam kartografi digital

Diseminasi hasil pemetaan memegang peranan penting dalam kaitannya dengan penyediaan informasi bereferensi spasial. Peta yang telah dihasilkan, akan berkurang artinya apabila tidak disebarluaskan kepada para penggunanya. Cara penyebarluasan hasil pemetaan digital telah berkembang pesat dengan tersedianya berbagai media penyimpan berkapasitas besar (compact disk, optical magneto disk, dll) dan adanya jaringan internet.

Pada umumnya, peta dibuat untuk diperbanyak (duplicated) dan disebarluaskan pada penggunanya. Duplikasi dalam rangka diseminasi hasil pemetaan dalam kartografi digital memiliki fleksibilitas yang tinggi karena hasilnya berupa file digital. Setidaknya ada 3 (tiga) cara diseminasi hasil pemetaan digital yang dapat dilakukan, yaitu: (1) menggunakan hasil cetak (print out) peta digital, hasilnya adalah paper map (hardcopy map), (2) menggunakan media penyimpan berkapasitas besar untuk menyimpan file peta digital (softcopy), dan (3) menggunakan media internet.

Diseminasi hasil pemetaan digital yang dapat dilakukan dengan berbagai cara, selain mempunyai kelebihan tentu memiliki kelemahan juga. Kemudahan untuk membuat salinan (copy) file peta digital, kemudahan untuk melakukan perubahan terhadap peta digital. Di lain sisi, memberikan peluang terhadap pelanggaran hak cipta (Intellectual Property Right) atas suatu produk pemetaan digital. Kelebihan dan kekurangan yang ada pada suatu penggunaan teknologi harus sejak awal disadari, sehingga tindakan antisipatif dapat segera dilakukan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Susilo,Bowo.2007. Petunjuk Praktikum Kartografi Digital. Yogyakarta : Fakultas Geografi UGM.

Sutanto. 1979. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra. Yogyakarta: : Gadjah Mada Unversity Press.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s