NO

BENTANG RELIEF ORDE

SKALA PETA

TINGKATAN SATUAN BENTUKLAHAN

1

I

< 1 : 5.000.000

Benua dan Ledok Samudera

2

II

1 : 500.000 – 1 : 5.000.000

Pegunungan, perbukitan dan daratan

3

III

1 : 100.000 – 1 : 500.000

Bentuk erosional, residual, dan deposisional

4

IV

1 : 25.000 – 1 : 100.000

a. relief lokal :

tunggal : datar, landai, miring, curam, terjal

majemuk : datar, berombak, bergelombang, berbukit, bergunung

b. jenis proses

erosi, gerak massa batuan/tanah, banjir, banjir genagan, sedimentasi,/deposisi, pelarutan

c. tingkat proses

– terkikis kuat, sedang, ringan, tanpa (netral)

– longsor kuat, sedang, ringan, tanpa (netral)

d. material

1. beku ; dalam, tengah, dan luar

2. sedimen ; lepas-lepas (unconsolidate), padu (consolidate)

3. metamorf ; foliasi, dan non foliasi

4. umur batuan menggunakan skala geologi

Advertisements

Ketidaksesuaian pemanfaatan lahan untuk suatu fungsi tertentu biasanya akan membawa masalah baik saat ini maupun saat yang akan datang. Selain itu, permasalahan penggunaan atau pemanfaatan lahan dapat timbul karena perkembangan pembangunan yang semakin pesat, sehingga akan menciptakan keadaan yang berbeda bagi daerah tersebut.

Seorang perencana harus mampu menganalisis masalah yang mungkin timbul di suatu daerah, baik masalah pemanfaatan lahan maupun masalah lainnya. Dari suatu masalah yang timbul terlebih dahulu dianalisis melalui data-data yang tersedia, apakah penyebab dari timbulnya masalah tersebut dan kemudian dapat menentukan daerah alternatifnya dan dibuat skenario untuk penanggulangannya.

Tentu saja daerah alternatif yang disarankan merupakan daerah yang lebih mempunyai keunggulan dari daerah lokasi sebelumnya, sehingga dikemudian hari tidak akan memunculkan masalah baru. Penentuan daerah alternatif harus memperhatikan keadaan yang ada sekarang dan memprediksi keadaan pada masa yang akan datang, karena merencanakan suatu lokasi untuk peruntukan tertentu tidak hanya berorientasi saat ini saja tetapi juga harus dijaga kesinambungannya untuk masa mendatang.

Penentuan lokasi alternatif yang direkomendasikan juga harus mempunyai dasar-dasar atau alasan mengapa tempat tersebut dipilih. Alasan atau dasar tersebut bisa meliputi penggunaan lahan, kebijakan, kondisi penduduk, ketersediaan lahan, dan sebagainya. Selain itu, skenario pembangunan kawasan tertentu dapat diambil dengan melihat berbagai potensi yang mungkin untuk mengubah kawasan tersebut dimasa depan dengan memperhatikan aspirasi masyarakat

ANALISIS KETERSEDIAAN LAHAN

Posted: April 20, 2012 in Uncategorized

Pengertian perencanaan penggunaan lahan dan apa yang harus dikerjakan dalam perencanaan penggunaan lahan, dapat dikemukakan sebagai berikut:

  • Suatu proses pengambilan keputusan mengenai bagaimana seharusnya lahan digunakan.
  • Merupakan suatu cara menempatkan goal (sasaran) penggunaan lahan, dan menunjukkan bagaimana sasaran tersebut dapat dicapai.

Penggunaan lahan baik di pedesaan maupun di perkotaan, dalam kenyataannya menunjukkan suatu kompleksitas, walaupun keduanya berbeda derajat kompleksitasnya. Perbedaan kompleksitas tersebut terdukung oleh obyek-obyek alam, bentang budaya, ekosistem, sistem produksi, dan sebagainya. Oleh karenanya, dalam rangka inventarisasi perlu dilakukanya penggolongan atau pengelompokkan, atau klasifikasi. Makna klasifikasi adalah proses penetapan obyek-obyek, kenampakan, atau satuan-satuan menjadi kumpulan-kumpulan di dalam suatu sistem pengelompokkan yang dibedakan berdasarkan sifat-sifat khusus, atau berdasarkan kandungan isinya. Manfaat utama dari kumpulan yang kompleks menjadi kelompok-kelompok (disebut klas, kategori) yang dapat diperlakukan sebagai unit-unit yang seragam untuk suatu tujuan khusus. Jadi, tujuan klasifikasi untuk menentukan kriteria dari klasifikasi.

Pembahasan klasifikasi penggunaan lahan tidak terlepas dari pengertian tentang lahan sebagai sumberdaya alam. Sumberdaya alam sebagai kesatuan unsure-unsur lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan. Sumberdaya terdiri atas dua sifat: (1) dapat diperbaharui atau dapat diremajakan dan lestari bila dikelola dengan baik, dan (2) tidak dapat diperbaharui atau diremajakan. Oleh karena itu, penggunaannya harus mendapat perhatian yang utama dalam hal efisiensi. Agar sumberdaya alam dapat pulih, memberikan manfaat maksimal, dan lestari, maka diperlukan pengelolaan yang intensif, ketepatan tumbuh, serta kepastian usaha dan hukum jangka panjang. Artinya pola penggunaan lahan yang tepat dan terpadu, baik dalam usaha tani, komoditas, maupun dalam pembangunan wilayah sangat diperlukan. Agar status tidak berubah-ubah dalam waktu relatif pendek, maka pembakuan (standardized) klasifikasi pengunaan lahan mantap, yakni mempertimbangkan fakta fisik, sosial, budaya, ekonomi, ekologi, rencana pengembangan, keserasian lingkungan hidup, dan kelestarian sumberdaya pada masa ini dan masa mendatang, serta present land use.

Kenyataan yang komplek seperti halnya penggunaan lahan perdesaan, bentang alam, ekosistem, sistem berproduksi, dan sebagainya merupakan suatu kecenderungan alam yang harus diklasifikasi. Sistem klasifikasi merupakan temuan manusia yang yang disusun untuk menyesuaikan dengan manusia. Klasifikasi merupakan pengelompokkan obyek tertentu yang sama dan sejenis, dan pemisahan obyek yang berbeda (Nelson, et al, 1978), Malingreau (1981) menjelaskan bahwa klasifikasi adalah penetapan obyek-obyek, kenampakan, atau satuan-satuan menjadi kumpulan-kumpulan di dalam suatu sistem pengelompokan yang dibeda-bedakan berdasar pada isi yang dikandung. Di samping itu dikemukakan tentang masalah penjejangan kelas bentuk penggunaan lahan dalam suatu klasifkasi penggunaan lahan secara jelas dan sistematis.

 

Daftar Pustaka

Widiyanto, S.Si., Dodi dan Estuning Tyas W. M. 2008. Petunjuk Praktikum Perencanaan Penggunaan Lahan. Yogyakarta: Program Studi Pembangunan Wilayah Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada.

Beberapa macam bentuklahan asal proses geomorfologi tertentu, antara lain:

  • Bentuklahan asal proses Struktural.

Bentuklahan yang disebabkan oleh adanya tenaga endogen yaitu tenaga yang berasal dari dalam bumi yang menyebabkan adanya tekanan pada lempeng/ kerak bumi. Akibat tekanan tersebut, timbulnya lipatan dan atau patahan. Lipatan terjadi apabila tenaga endogen tersebut tidak melebihi daya tahan material terhadap adanya tekanan sedangkan patahan terjadi apabila tenaga endogen tersebut melebihi besarnya daya tahan material tersebut. Dalam struktur geologi antara lain dipelajari: bentuk lipatan dan patahan dengan perkembangannya. Bentuk-bentuk lipatan dibedakan menjadi sinklinal dan antiklinal.

  • Bentuklahan asal proses Vulkanis.

Volkanisme adalah proses masuknya magma ke permukaan bumi. semua fenomena yang berkaitan dengan proses gerakan magma dari dalam bumi menuju ke permukaan bumi yang menghasilkan bentukan yang cenderung positif di permukaan bumi yang disebut sebagai bentukan volkanik. Gerakan magma ini dari pusat bumi naik mendesak kerak bagian atas, membentuk igir baik yang terjadi di daratan maupun di lautan. Karakteristik morfologi dari bentuklahan asal volkanik ini dicerminkan dari pola kontur dan pola aliran yang umumnya, berpola aliran radial sentrifugal, yaitu pola aliran menyebar yang berasal dari satu pusat.

  • Bentuklahan asal proses Fluvial.

Bentuklahan asal proses fluvial adalah semua bentuklahan yang terjadi akibat adanya proses aliran baik yang terkonsentrasi yang berupa aliran sungai maupun yang tidak terkonsentrasi yang berupa limpasan permukaan. Akibat adanya aliran air tersebut maka akan terjadi mekanisme proses erosi, transportasi, dan sedimentasi.

  • Bentuklahan asal proses Marin.

Bentuklahan yang dihasilkan oleh aktivitas laut yaitu oleh adanya gelombang dan arus laut. Akibat keberadaan gelombang (wave) dan arus (current) akan menghasilkan bentuklahan asal marin baik bentukan erosional (seperti, dinding terjal) maupun bentukan deposisional (seperti: delta, betinggisik, sediment marin, tombolo, dan spit).

  • Bentuklahan asal proses Solusional.

Bentukan asal proses solusional terbentuk akibat proses pelarutan batuan yang terjadi pada daerah berbatuan karbonat tertentu. Tidak semua batuan karbonat terbentuk topografi karst. Faktor lain adalah: terletak pada daerah tropis basah, dengan topografi tinggi, dan vegetasi penutup cukup rapat. Bentukan hasil proses solusional ini pada dasarnya ada 3 (tiga) macam, yaitu bentuk solusional (seperti: dolin, uvala, polye), bentuk sisa/ residual (seperti kubah karst, menara karst), dan bentukan deposisional (seperti: stalaktit, stalakmit, dataran aluvial).

  • Bentuklahan asal proses Eolin.

Bentuklahan yang dihasilkan oleh gerakan udara (angin). Angin merupakan salah satu agen yang menyebabkan proses erosi setelah air, gelombang, dan es. Bentuklahan ini umumnya berkembang di daerah beriklim kering (arid). Angin hanya mengangkut material yang ringan dengan besar butir paling kecil, sehingga bentuklahan asal eolin ini tersusun atas materi lepas-lepas dengan tekstur halus. Contoh: gumuk pasirdan Loess.

  • Bentuklahan asal proses Denudasional.

Merupakan semua proses yang mengakibatkan terjadinya pengikisan permukaan bumi sehingga akan terjadi bentukan yang lebih rendah dan proses tersebut akan terhenti apabila permukaan bumi telah mencapai level dasar yang sama dengan permukaan di sekitarnya (base level). Proses denudasional sangat terkait pada proses pelapukan, erosi dan gerak massa batuan. Bentuklahan yang dihasilkan berupa pegunungan denudasional terkikis, perbukitan denudasional terkikis, perbukitan terisolasi, peneplain, lereng kaki rombakan, dinding terjal, kipas koluvial, kerucut koluvial, dan lahan kritis.

  • Bentuklahan asal proses Glasial.

Bentuklahan yang dihasilkan akibat proses aktivitas es, bentukan yang dihasilkan dapat berupa igir terkikis, dan morain (sedimentasi es).

  • Bentuklahan asal proses Organis.

Bentuklahan yang dihasilkan oleh proses aktivitas makhluk hidup maupun jasad renik lainnya.

Pola Dasar Aliran Sungai

Posted: April 18, 2012 in Uncategorized

Ada beberapa macam pola dasar aliran sungai, yaitu :

1. Dendritik

  • Bentuk menyerupai cabang-cabang pohon.
  • Mencerminkan resistensi batuan yang sama (homogenitas batuan) atau tanah yang seragam.
  • Lapisan sediment horizontal atau miring landai.
  • Control struktur tidak begitu tampak.

2. Paralel

  • Terbentuk dari aliran cabang-cabang sungai yang sejajar.
  • Atau paralel pada bentang alam yang panjang.
  • Mencerminkan kemiringan lereng yang cukup besar dan hampir seragam.

3. Trellis

  • Terbentuk dari cabang-cabang sungai kecil yang berukuran sama dengan aliran tegak lurus sepanjang sungai induk subsekuen yang parallel.
  • Terdapat pada daerah lipatan, patahan yang paralel, daerah blok pegunungan pantai hasil pengangkatan dasar laut, daerah vulkanik atau daerah metasedimen derajad rendah dengan pelapukan yang berbeda-beda.

4. Rectangular

  • Aliran cabang sungai tegak lurus terhadap sungai induk.
  • Aliran memotong daerah secara tidak menerus.
  • Mencerminkan kekar atau yang saling tegak lurus dan tidak serumit pola trellis.

5. Radial

  • Bentuk aliran seolah memancar dari satu titik pusat berasosiasi dengan tubuh gunung api atau kubah berstadia muda.
  • Dalam konsep Davis, pola radial ini adalah menyebar dari satu titik pusat (sentrifugal), sedangkan klasifikasi lain menyatakan pola radial mencakup dua sistem pola pengaliran yaitu : sentrifugal dan sentripetal.

 

6. Annular

  • Cabang sungai mengalir tegak lurus sungai induk subsekuen yang melingkar.
  • Pada struktur kubah dan cekungan, diaterma dan kemungkinan pada intrusi stock yang tererosi.
  • Sungai dikontrol pola sesar atau kekar pada “bedrock”.

7. Multibasinal

  • Pada daerah endapan antar bukit, batuan dasar yang tererosi.
  • Ditandai adanya cekungan-cekungan yang kering atau terisi air yang saling terpisah, aliran yang terputus dan arah aliran yang berbeda-beda.
  • Pada daerah aktif gerakan tanah dan vulkanik, batugamping yang mengalami pelarutan.
  • Definisi diatas digunakan untuk semua bentuk depresi yang belum diketahui bentuk polanya.

8. Contorted

  • Terbentuk dari aliran cabang-cabang sungai yang relatif tegak lurus terhadap sungai induk subsekuen yang melengkung.
  • Dibedakan dari “recurved trellis” dengan ciri daerahnya yang tidak teratur, control struktur sesar atau daerah tersebut labil.
  • Adanya lipatan menunjam.

Citra Gelombang Mikro

Posted: April 18, 2012 in Uncategorized

Rekaman satu sisi radar menghasilkan gambaran persegi panjang dengan lebar 30 – 40 Km dan panjang lebih dari 1.000 Km dipermukaan bumi dan pada citra radar skala 1 : 200.000 – 1 : 400.000 dengan lebar 10 cm dan panjang beberapa meter. Kenampakan isi citra tergantung pada ketinggian pesawat, ketinggian pesawat antara 6 – 12 km di atas permukaan laut.

Antena memancarkan suatu signal gelombang kecil yang berbentuk gelombang radio (Westinghause lubang asli pnjang gelombang 0,86 cm pada band Ka dan Goodyear Aeroservice lubang sintetik panjang gelombang 3,12 cm pada band X). pantulan pulsa radar kemudian direkam dengan fungsi waktu dan menetapkan hasil citra dengan uji silang komponen citra tersebut. Untuk penjang citra menunjukkan arah panjang pesawat.

Radar foreshortening adalah pemendekkan bayangan dari kemiringan obyek di permukaan bumi pada citra akibat gerakan pesawat. Radar layover akan terjadi apabila obyek tinggi di permukaan sangat dekat dengan pesawat sehingga gelombang yang dipantulkan lebih dhulu diterima.

Bayangan yang dihasilkan radar dari suatu obyek yang memiliki tinggi sama akan terlihat besar di daerah far range dibanding daerah near range. Citra SLAR dapat diinterpretasi dalam mono vision jika posisi bayangan radar jatuh di depan pengamat, selain itu kenampakkan pseudo 3D akan terlihat seperti misalnya pola aliran, kawasan hutan, dan lain sebagainya. Dengan arah penerbangan yang sama akan menambah kenampakkan yang lebih jelas dibanding satu pengamatan.

 

Daftar Pustaka

Lillesand dan Kiefer. 1997, Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

Sigit Heru Murti, dkk. 2007. Petunjuk Praktikum Penginderaan Jauh Non-  fotografi. Yogyakarta : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada.

Sutanto. 1994. Penginderaan Jauh Jilid 2,  Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

METODE PENGUKURAN / PEMETAAN

Posted: April 18, 2012 in Uncategorized

Metode atau cara pengukuran digunakan  untuk perhitungan, pengolahan, dan koreksi data untuk menentukan posisi (koordinat) setiap titik yang terukur dalam wilayah pemetaan. Secara umum metode ini dapat dibagi sebagai berikut :

Metode pengukuran pada alat ukur sederhana :

1.    Pengukuran jarak

Apabila jarak antara dua titik yang akan diukur lebih panjang dari alat ukur yang ada maka dua tahapan yang harus dilakukan :

–     pelurusan (pembanjaran)

Pembanjaran dilakukan oleh dua orang, seorang membidik sementara yang lain menancapkan yalon sesuai dengan komando dari si pembidik. Seprti yang terlihat pada gambar x, misalnya akan diukur jarak AB, dua buah yalon harus ditancapkan di atas titik A dan B. Selanjutnya pembidik berdiri di belakang yalon A dan mengatur agar mata pembidik satu garis dengan yalon A dan B. Keadaan ini dapat diketahui jika mata si pembidik hanya melihat satu yalon saja. Di antara yalon A dan B harus ditancapkan beberapa yalon atau patok yang jaraknya terjangkau oleh alat ukur.

Seringkali dijumpai rintangan pada areal yang akan diukur sehingga pembanjaran tidak dapat dilakukan seperti gambar diatas. Maka pembanjaran disini perlu perlakuan yang berbeda, dikarenakan :

  1. Kondisi lapangan yang bergelombang/curam/berbatasan dengan tembok tinggi.
  2. Ada bangunan/rintangan di tengah areal yang akan diukur, dan sebagainya.

–     pengukuran jarak secara langsung

Pengukuran jarak dua titik dapat dilakukan dengan menggunakan kayu meter, rantai meter, pita meter.

Untuk permukaan tanah yang miring, pengukuran dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan pita/kayu ukur yang diatur horizontal dengan bantuan nineau serta mengukur langsung tanah yang miring.

2.      Pengukuran sudut miring

Pengukuran sudut miring sangat diperlukan dalam memperoleh informasi jarak (D) dan beda tinggi (BT) secara tidak langsung.

Alat yang biasanya digunakan adalah abney level, yang penggunaannya dengan membidik langsung pada puncak obyek yang diinginkan kemudian menggerakkan niveau yang dihubungkan dengan penunjuk skala hingga berada pada posisi tengah benang. Hasilnya dapat dibaca langsung pada penunjuk skala tersebut.

3.      Pengukuran Beda Tinggi (BT)

Pengukuran beda tinggi antara dua titik di lapangan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu cara langsung dengan menggunakan alat ukur yang dipasang mendatar, serta cara tidak langsung dengan mengukur panjang miringnya dan sudut yang terbentuk terhadap lereng.

Pengukuran dengan waterpass instrumen

  1. Pengukuran Jarak dan Beda Tinggi

Pada waterpass pengukuran jarak memiliki rumus :

D = 100. (Ca – Cb)

Untuk pengukuran beda tinggi (BT) antar dua titik dapat dihitung berdasarkan tinggi alat dan nilai kurva tengah, sehingga dirumuskan menjadi :

BT = TA-Ct

2 . Pembacaan sudut horizontal

Sudut arah adalah sudut horizotal yang dibentuk oleh perpotongan suatu garis dengan meridian bumi (utara-selatan) . dalam pengukuran , untuk menyatakan besarnya sudut dikenal dua cara yaitu :bearing dan azimuth

Biaring merupakan sudut arah yang diukur dari utara atau selatan magnet bumi ke titik lain searah atau berlawanan dengan arah putaran jarum jam dengan sudut kisaran antara 0- 90. Azimut merupakan sudut arah yang diukur dari utara magnet bumi ke titik yang lain searah jarum jam. Sehingga mempunyai kisaran attara 0-360

Pengukuran Dengan Theodolit

1.      Pembacaan sudut horizontal (Az)

Sudut arah adalah sudut horisontal yang dibentuk oleh perpotongan suatu garis dengan meridian bumi ( utara-selatan). Dalam pengukuran, untuk menyatakan besarnya sudut dikenal dua cara, yaitu : “Bearing” dan “Azimuth”.

Bearing merupakan sudut arah yang diukur dari utara atau selatan magnet bumi ke titik lain yang searah/berlawanan dengan arah putaran jarum jam, dengan sudut kisaran antara 0-90. Azimuth merupakan sudut arah yang diukur dari utara magnet bumi ke titik yang lain searah jarum jam sehingga mempunyai kisaran antara 0-360.

2.      Pembacaan sudut miring (V)

Sudut miring merupakan sudut yang dibentuk oleh garis bidik teropong dengan bidang horisontal. Pada umumnya besarnya sudut horisontal dan vertikal terdapat dalam satu mikrometer, namun adapula yang dipisahkan.

3.      Pengukuran jarak (D) dan beda tinggi (BT)

Jarak horisontal (H) dan Jarak (D)

D = 100 ( Ca-Cb). Cos α

H = D. Cos α

H = 100 ( Ca – Cb). Cos2 α

Beda Tinggi (BT)

BT = H. Tg α – h

4.      Penggambaran posisi tiap titik kenampakan pada peta

Penggambaran dapat dilakukan secara grafis dengan busur derajat untuk menentukan sudut arah dan jaraknya dengan mistar (sesuai skala). Cara lain adalah menggunakan sistem koordinat yang terdiri atas dua saling tegak lurus. Posisi tiap sasaran yang diukur digambarkan dengan menghitung harga absis dan ordinatnya.

5.      Poligon

Poligon adalah rangkaian titik-titik yang dihubungkan secara berurutan. Jika titik awal dan titik akhir bertemu, disebut sebagai poligon tertutup. Sebaliknya jika titik awal dan titik akhir tidak bertemu maka disebut sebagai poligon terbuka.

Poligon digunakan sebagai kerangka dasar di dalam pengukuran kenampakan di lapangan. Poligon terbuka lebih sering untuk pekerjaan perencanaan/perbaikan jalan, saluran, irigasi dll. Poligon tertutup untuk pembuatan peta areal/wilayah dan kontur.

Untuk pembuatan poligon tertutup, pengukuran sudut arah cukup dilakukan pada awal pengukuran saja. Sudut arah untuk titik berikutnya didasarkan pada sudut arah awal (titik sebelumnya) dari sudut dalam bersangkutan. Sudut dalam untuk menghitung sudut arah (azimuth) adalah sudut dalam terkoreksi. Tiga parameter yang digunakan sebagai pedoman adanya penyimpanan dan perlu koreksi adalah :

  1. Σ sudut dalam = (n-2) x 180
  2. Σ D sin α = 0
  3. Σ D cos α = 0

Jika data pengukuran menyompang dari syarat di atas, maka poligon tidak tertutup dan perlu adanya koreksi.

Persamaan umum dalam menghitung sudut arah adalah :

Azimuth (α)n = α  (n-1) + 1800 – Sn

Untuk koreksi secara grafis, maka polygon yang tidak tertutup setelah tergambar dapat dikoreksi dengan menghitung sudut atau cara graphical plot.

 

Daftar Pustaka

Sudaryatno, 2001, Petunjuk PraktIkum Ilmu Ukur Tanah. Yogyakarta : Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada.