Konsep Geospatial Untuk Memahami Perubahan Iklim Global

Posted: April 15, 2012 in Uncategorized

Pengantar

Makalah sederhana ini merupakan makalah yang disusun secara ringkas dan berusaha membahas tentang hal yang berkaitan pemahaman konsep geospasial sebagai dasar untuk memahami fenomena perubahan global.

 1. Pengertian umum.

 Seperti kita ikuti bersama, akhir-akhir ini diskusi tentang global change banyak diangkat. Berbagai perubahan sosial, ekonomi, budaya, teknologi dan politik mengharuskan jalinan hubungan di antara masyarakat manusia di seluruh dunia. Fenomena ini dirangkum dalam terminologi globalisation. Ditengah riuh rendah globalisasi inilah muncul wacana Global Enviromental Change (GEC).

 

GEC sendiri diartikan sebagai perubahan dalam skala besar pada sistem bio-fisik dan ekologi yang disebabkan aktifitas manusia. Perubahan ini terkait erat dengan sistem penunjang kehidupan planet bumi (life-support system). Ini terjadi melalui proses historis panjang dan merupakan agregasi pengaruh kehidupan manusia terhadap lingkungan, yang tergambar misalnya pada angka populasi yang terus meningkat, aktifitas ekonomi, dan pilihan-pilihan teknologi dalam memacu pertumbuhan ekonomi. Saat ini pengaruh dan beban terhadap lingkungan hidup sedemikian besar, sehingga mulai terasa gangguan-gangguan terhadap Sistem Bumi kita. Sebagai contoh, kita terus mempertinggi konsentrasi gas-gas tertentu yang menyebabkan meningkatkan efek alami rumah kaca (greenhouse) yang mencegah bumi dari pendinginan alami (freezing).

 

Terjadinya euphoria pemanasan global membuat banyak kalangan dengan berbagai macam sudut pandang dan kacamata menunjuk pemanasan global sebagai penyebab kejadian-kejadian alam yang mungkin sesungguhnya disebabkan oleh perubahan penutupan dan penggunaan lahan atau merupakan kejadian ekstrim yang biasa terjadi secara alami.

 Selama abad 20 ini, suhu rata-rata permukaan bumi meningkat dan menipisnya lapisan ozon, hilangnya keaneragaman hayati (bio-diversity), degradasi kualitas lahan, penangkapan ikan melampaui batas (over-fishing), terputusnya siklus unsur-unsur penting (misalnya nitrogen, sulfur, fosfor), berkurangnya suplai air bersih, urbanisasi, dan penyebaran global berbagai polutan organik.

 

Pengaruh perubahan iklim global terhadap berbagai hal yang berhubungan dengan kehidupan umat manusia bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan kerja keras dan pendekatan inter-disiplin diantaranya dari  studi evolusi, bio-geografi, ekologi dan ilmu sosial.

           

Melalui pendekatan interdisipliner dari berbagai cabang ilmu kebumian seperti : geografi, geologi, geomorfologi, petrologi, klimatologi, meteorologi dan geofisika, maka informasi tentang segala fenomena dan latar belakang masalah kebumian dapat diungkapkan dengan lebih jelas, spesifik dan lebih bermakna.

 Pelibatan cabang-cabang ilmu kebumian tersebut (sebagai ilmu bantu) dalam mengupas/mengatasi suatu fenomena atau masalah kebumian, dapat menghasilkan suatu kajian yang lengkap dan komprehensif. Pemanfaatan remote sensing dan fotogrametri merupakan suatu revolusi dalam mengungkap fenomena (masalah kebumian yang bereferensi ).

 

Dengan remote sensing dan fotogrametri serta sistem informasi geografis yang pada dasarnya merupakan perpaduan antara iptek kebumian, teknologi informasi dan komputer telah dapat mempercepat proses identifikasi dan pemahaman atas masalah yang terjadi pada ruang muka bumi (geospatial) secara interrelationship dan/atau interdependental. Melalui pendekatan antardisiplin ilmu (multi disiplinery approach) terhadap suatu masatah geospatial dan penggunaan teknologi remote sensing serta computer secara terpadu telah menjadi suatu sarana yang ampuh dalam memecahkan masalah geospatial secara cepat dan akurat. (Tono S., 2003)

Di sisi lain kemajuan teknik penginderaan jauh (remote sensing) dan aplikasi-aplikasi sistem informasi geografis akan memberikan sumbangan berarti dalam melakukan monitoring lingkungan secara multi-temporal dan multi-spatial resolution.

Aplikasi dan penerapan di Bidang Kehutanan, Pertanian, Perkebunan dan Perikanan. Kemampuan citra Landsat TM dan SPOT/P yang dihasilkan Multiband Scanner telah mampu mengidentifikasi jenis-jenis tanaman, kondisi tanaman dan menentukan jenis tanah serta sifat-sifat tanah lainnya. Bahkan dengan penggunaan Landsat TM beresolusi tinggi, kematangan tanaman dan ukuran rata-rata pohon di hutan dapat diketahui. Dengan kemampuan pemantauan penginderaan jauh yang bersifat periodik dapat diketahui dan dievaluasi perkembangan/perubahan areal tanaman atau tumbuhan hutan setiap waktu. Sehingga dengan demikian teknologi ini merupakan sarana pengawasan pembangunan yang efektif dan efisien.

Penerapan di Bidang Pemantauan Bencana Alam. Sebelum bencana alam terjadi biasanya didahului oleh adanya gejaIa-gejala tertentu. Contohnya, sebelum gunung api meletus biasanya didahului oleh adanya peningkatan suhu permukaan bumi di sekitar gunung api tersebut. Peningkatan panas ini dapat diketahui dari perubahan yang terjadi pada citra Satelit penginderaan jauh. Bahaya longsoran tanah atau pergeseran tanah pada umumnya diawali dengan adanya retakan atau rekahan atau patahan bidang tanah secara vertikal. Gejala demikian dapat diketahui dari hasil analisis citra foto atau citra radar. Bahaya badai atau angin ribut sebelumnya dapat diketahui dari adanya dua blok massa udara bertekanan sangat tinggi dan di lain pihak massa udara bertekanan rendah. Gejala udara ini dapat diketahui dari citra satellt GMS (Geostationary Meteorological Satellite). Demikian pula dengan bencana alam lainnya seperti banjir, kebakaran hutan, secara tidak langsung dapat diramalkan sebelumnya melalui perubahan gejala tertentu pada lingkungan setempat. Perubahan gejata ini dapat diketahui dari perubahan citra satelit dalam kurun waktu yang relatif singkat (Mahdi Kartasasmita, dkk, 1998).

Dengan citra satelit, kebakaran hutan dapat diketahui secara dini, bahkan dapat diantisipasi. Guguran daun dari pohon-pohon pada suatu areal hutan yang luas akibat kekeringan pada musim kemarau sangat rentan menimbulkan kebakaran yang hebat bilamana pada areal hutan tersebut berhembus angin kencang. Kondisi tersebut dapat diketahui dari citra satelit. Kita, bahkan  negara tetangga kita dapat mengetahui jumlah titik api pada kebakaran hutan di Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, dll. Untuk bencana alam yang ditimbulkan oleh dampak perbuatan manusia, seperti pertanian liar di daerah terlarang, illegal logging, illegal mining, dan lain-lain, dengan data citra satelit dapat diketahui dan bahayanya dapat diantisipasi secara dini. Kerusakan lingkungan, khususnya hutan yang sekarang marak terjadi dengan demikian dapat diminimalisasi, karena segera dapat diketahui sejak dini melalui citra satelit (Agus Hidayat, 1995)

Penggunaan data spasial dirasakan semakin diperlukan untuk berbagai macam keperluan.  Setiap perencanaan pembangunan kewilayahan hanya akan baik bila dilaksanakan dengan berdasar pada informasi geo-spasial yang akurat dan komprehensif. Padahal informasi geo-spasial yang akurat dan komprehensif kurang tersedia secara merata pada berbagai bidang. Pada wilayah atau bidang yang telah lengkap ketersediaan data dan informasi geospasialnya perlu dilakukan optimalisasi, sehingga pembangunan kewilayahannya dapat dengan baik direncanakan dan dilaksanakan.  

  1. 2.      Data geospasial

Kata “geo” bagi kebanyakan orang yang mendalami ilmu kebumian merupakan kata yang tidak asing  Kata “geo” selalu dikaitkan dengan bumi atau lebih lazim dalam ilmu pengetahuan, “geo” diartikan dengan  ilmu tentang hal yang berhubungan dengan bumi.  Singkatnya “geo” berarti ilmu kebumian.

Saat ini banyak istilah yang diawali dengan kata ‘geo’, misalnya  geo-web, geo-info, termasuk geo-spasial. Awalnya kata spasial-pun tidak diawali dengan kata geo (Setyawan, 2008).  Spasial secara sederhana dapat diartikan sebagai ilmu mengenai ruang (space). Secara umum ilmu tentang ruang  dapat diaplikasikan pada berbagai ilmu. Bahkan ilmu kedokteran juga dapat mengaplikasikan ilmu spasial pada pemetaan tubuh manusia.

Jadi  kata ‘geo’ digunakan untuk menunjukkan bahwa hal tersebut berkaitan dengan kebumian, sehingga kata geospasial berarti ilmu mengenai ruang pada permukaan bumi. Data geo-spasial berarti data tentang segala sesuatu pada ruang permukaan bumi atau data geografis.

Data geospasial pada dasarnya tersusun dari data grafis dan data atribut. Data grafis biasanya berupa data gambar atau dalam bentuk peta dan data atribut biasanya dalam bentuk tabel atau informasi bawaan tentang gambar atau peta.(Suharyadi, 2006).

Data geospasial  yang berbasis keruangan pada saat ini merupakan salah satu elemen yang paling penting, karena berfungsi sebagai pondasi dalam melaksanakan dan mendukung berbagai macam aplikasi. Sebagai contoh dalam bidang lingkungan hidup, perencanaan pembangunan, tata ruang, manajemen transportasi, pengairan, sumber daya mineral, sosial dan ekonomi, pengembangan dan perencanaan wilayah, dan manajemen sumberdaya alam, serta bidang yang lain.

 

Masalah yang sering dikeluhkan oleh pengguna data geo-spasial adalah  minimnya informasi mengenai keberadaan dan ketersediaan data spasial yang dibutuhkan.

 

Kebutuhan akan data geo-spasial dalam berbagai jenis tema dan resolusi sudah disadari oleh sebagian besar kalangan dari mulai sektor swasta, pemerintah maupun pihak lainnya termasuk komunitas ilmuwan, dan individual.

 

Oleh karena itu berbagai macam organisasi dan institusi menginginkan untuk mendapatkan data spasial yang konsisten, tersedia serta mempunyai aksesibilitas yang baik. Terutama yang berkaitan dengan perencanaan ke depan, data geografis masih dirasakan mahal dan membutuhkan waktu yang lama untuk memproduksinya. (Suryantoro, 2008).

 3.  Kesadaran ber geo spasial

 

No map (baca: data geospasial), no plan

No map, no culture

Be spasial, to be special (Mustafa, 2007)

 

Posisi strategis Indonesia di antara dua benua, yaitu Benua Australia dan Benua Asia, dan diantara dua samudra yaitu Samudra Pasifik dan Samudra Hindia selalu menjadi “kebanggaan” sumir yang “ditanamkan” pada pelajaran geografi di SD, SMP, SMA bahkan mungkin di perguruan tinggi terkait posisi geografis Indonesia. Jadi sebenarnya kesadaran bergeospasial sudah ditanamkan sejak bangku sekolah sampai bangku perguruan tinggi.

Hal penting lain yang perlu ditanamkan adalah tentang “karakteristik” tempat tinggal dan tempat mereka beraktivitas. Yang paling sederhana adalah dimana rumah mereka berada? Apakah berada di samping rumah si A, dekat sungai, dekat tebing, dekat pertokoan, berada di bukit, di pinggir pantai, di dekat gunung api, dan sebagainya. Ini yang disebut dengan memahami lokasi dan posisi (geo-spasial) suatu wilayah.

Sejak gempa dan tsunami melanda NAD, masyarakat dan pemerintah daerah NAD menjadi masyarakat dan pemerintah daerah di Indonesia yang paling sadar akan pentingnya data geo-spasial dalam proses manajemen bencana, mulai dari proses evakuasi, pemindahan penduduk ke lokasi lain (relokasi) bahkan sampai pada proses rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah (Wikantika, 2008).

Bagaimana menuntun masyarakat Indonesia agar bisa mempunyai kesadaran geo-spasial? Ini pun dapat dilakukan melalui proses pendidikan. Masih ingat film kartun “Dora the Explorer”? Substansi filmnya pada dasarnya adalah pendidikan. “Peta…peta…peta” begitu yang sering terdengar dari film tersebut. Iya, peta adalah salah satu bentuk produk geo-spasial. Peta bisa “berbicara” banyak tentang lokasi dan posisi wilayah, maps can speak more than thousand words. Kesadaran geo-spasial inilah yang dibutuhkan masyarakat Indonesia.

3. Optimalisasi data geospasial

Perkembangan wilayah merupakan suatu konsekuensi logis dari proses pembangunan yang berdampak pada perubahan fisik tata ruang wilayah. Proses perencanaan, perancangan serta monitoring dalam pelaksanaan pembangunan guna mengembangkan suatu wilayah menghadapi permasalahan yang sangat kompleks. Proses-proses pembangunan wilayah tersebut saat ini dilakukan dengan proses analisis manual dan digital data fisik spasial yang memiliki keterbatasan dalam pengelolaan data kewilayahan. Keterbatasan ini mengakibatkan analisis perencanaan kawasan dan pengambilan keputusan perancangan tidak optimal.

Penggunaan data spasial dirasakan semakin diperlukan untuk berbagai keperluan seperti penelitian, pengembangan dan perencanaan wilayah, dan manajemen sumberdaya alam. Pengguna data spasial merasakan minimnya informasi mengenai keberadaan dan ketersediaan data spasial yang dibutuhkan. Penyebaran (diseminasi) data spasial yang selama ini dilakukan dengan menggunakan media yang telah ada yang meliputi media cetak (peta), cd-rom, dan media penyimpanan lainnya dirasakan kurang mencukupi kebutuhan pengguna. Pengguna diharuskan datang dan melihat langsung data tersebut pada tempatnya (data provider). Hal ini mengurangi mobilitas dan kecepatan dalam memperoleh informasi mengenai data tersebut.

Perkembangan media internet yang semakin pesat memungkinkan penyedia jasa informasi spasial dapat menggunakan media ini untuk penyebarluasan informasi data spasial. Dengan menggunakan media internet (website) pengguna dapat langsung mencari dan melihat informasi data spasial yang dibutuhkan tanpa harus mendatangi tempat penyedia jasa tersebut. Pengguna dapat melakukan pencarian data spasial berdasarkan informasi metadata yaitu informasi mengenai data tersebut yang meliputi akurasi, sejarah data, kelengkapan data, kualitas data dan lain sebagainya. Dengan informasi tersebut pengguna dapat langsung menentukan apakah data tersebut sesuai dengan kebutuhan dan kriteria yang diinginkan.

Pengadaan data merupakan salah satu kegiatan yang memerlukan biaya tinggi dan alokasi waktu yang cukup lama. Mengingat besarnya investasi yang harus dikeluarkan untuk pengadaan dan pemeliharaan, maka diperlukan adanya suatu upaya mengurangi biaya.

Pertukaran data spasial atau menggunakan data spasial secara bersama-sama, merupakan salah satu upaya untuk mengurangi biaya yang diperlukan. Setiap pengguna (user) yang memerlukan data geospasial di lokasi tertentu, dapat menggunakan data dari berbagai institusi penyedia data atau dari pengguna lain yang memiliki data geospasial di lokasi tertentu.

Dari sudut pandang teknis, seringkali dijumpai kenyataan bahwa berbagai institusi penyedia data geospasial umumnya menyimpan dan mengolah data geospasial dalam model/format yang berbeda-beda. Akibatnya para pengguna akan menemui kesulitan apabila ingin menggunakan data tersebut dalam aplikasi yang diinginkan.

Untuk itu diperlukan model yang baku/standar dalam penyimpanan maupun pengelolahan data geospasial, sehingga para pengguna tidak perlu melakukan proses konversi data yang cukup rumit sebelum menggunakan data geospasial tersebut.

Pengguna standar data geospasial, di samping akan menekan biaya pengadaan data, juga akan meningkatkan manfaat dari data itu sendiri, karena data yang sama dapat digunakan oleh berbagai pengguna untuk keperluan yang berbeda.

Data geo-spasial juga sangat diperlukan keberadaannya untuk berbagai pengambilan keputusan termasuk dalam berbagai penataan ruang. Akan diperoleh informasi tata-ruang nasional maupun tata-ruang daerah yang baik dan akurat apabila pada saat perencanaan dilakukan tersedia dengan memadai berbagai jenis data geo-spasial yang diperlukan dalam keadaan memadai serta lengkap, akurat, dan up to date.

Penutup.

Aplikasi remote sensing dan gis dapat secara optimalisasi digunakan dan dimanfaatkan akan berdaya guna dengan didasari pada pondasi pendidikan, untuk menumbuhkan kesadaran geospasial, dan sebagai dasar pemahaman perubahan global (misalnya iklim), yang akhirnya untuk perencanaan pembangunan di berbagai bidang (dengan memperhatikan hal teknis antara pengguna, pembuat, dan pelaku pembangunan).  

 

Referensi  dan Pustaka

1.Agus Hidayat,. 1995. Pemanfaatan Kondisi Lingkungan Menggunakan  Data Penginderaan Jauh, Pusfatja LAPAN, Jakarta

2.Mahdi Kartasasmita, Bambang Tedjakusuma, .1998. Strategi dan Antisipasi Lapan dalam Menyongsong Kegiatan Penginderaan Jauh Abad XXI, LAPAN, Jakarta

3. Mustafa, A.J. 2007. Membaca Kehidupan (Kecerdasan Ruang).

4.Setyawan, I. 2008. Visualisasi data spasial melalui web

5.Suharyadi, R. 2006. Pengolahan data spasial.

6.Suryantoro, A. 2008. Data Spasial untuk Hindari Bencana.

7.Tono Saksono, 2003, Next Map Indonesia : Kebangkitan Kembali Industri Pemetaan Indonesia, Invited Paper for Annual Academic Forum, the Indonesian Surveyors Association, Bandung

8.Wikantika, K. 2009. Kesadaran akan bencana dan geo-spasial.

 

dikutip dari : Retnadi Heru Jatmiko (F. Geografi UGM)

retnadi_geougm@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s