ANALISIS MEDAN

Posted: April 16, 2012 in Uncategorized

Bentuklahan di permukaan bumi terdiri dari berbagai macam keadaan dan ciri serta sifat-sirat yang berbeda-beda, tergantung pada proses pembentukan dan evolusinya. Bentuk-bentukan alam tersebut selanjutnya disebut landform. Landform ini lebih lanjut dipelajari pada geomorfologi. Antara geomorfologi dan geologi memiliki kaitan yang erat sehingga salah satu kunci geomorfologi adalah struktuf geologi.

Dengan melihat sangat kompleknya bentang lahan yang ada di permukaan bumi, maka terlebih dahulu harus diklasifikasikan ke dalam unit-unit bentuklahan. Dengan demikian, klasifikasi bentuklahan bertujuan menyederhanakan bentanglahan yang kompleks di permukaan bumi menjadi unit-unit sederhana (bentuklahan) yang mempunyai kesamaan dalam sifat dan perwatakannya.

Verstappen (1983) telah mengklasifikasikan bentuklahan berdasarkan genesisnya menjadi sepuluh klas utama, yaitu :

  • Bentuklahan asal struktural.
  • Bentuklahan asal vulkanik.
  • Bentuklahan asal denudasional.
  • Bentuklahan asal fluvial.
  • Bentuklahan asal marine.
  • Bentuklahan asal glasial.
  • Bentuklahan asal aeolian.
  • Bentuklahan asal solusional.
  • Bentuklahan asal organik.
  • Bentuklahan asal antropogenik.

Aspek-aspek penyusun satuan bentuk lahan dapat diinterpretasikan dari peta maupun foto udara, yang kemudian dilakukan cek lapangan. Interpretasi foto udara akan memberikan gambaran proses geomorfologi seperti erosi, sedimentasi, pelapukan, dan gerak massa batuan. Disamping itu juga dapat memberikan gambaran tingkat pentorehan relief permukaan secara kualitatif. Interpretasi fotogeomorfologi tersebut dilakukan dengan mendasarkan pada karakteristik foto udara yang meliputi rona, tekstur, pola, ukuran, bentuk, site, dan asosiasi. Kenampakan-kenampakan proses geomorfologi tertentu akan memberikan karakteristik yang khas pula pada foto udara. Tingkat pentorehan yang bersifat kualitatif dapat dinyatakan dengan membandingkan kerapatan dan besar alur yang tampak pada foto udara, demikian pula dengan relief yang secara umum dapat dilihat dan dibedakan berdasarkan bentuk, ukuran, pola, dan teksturnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Herumurti, Sigit. 2010. Petunjuk Praktikum Penginderaan Jauh untuk Terapan Pembangunan Wilayah. Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Lillesand, Thomas M. And ralph W. Kiefer. 1990. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Suharsono, Prapto. 1999. Identifikasi Bentuklahan dan Interpretasi Citra untuk Geomorfologi (Kumpulan Bahan Kuliah). Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Sutanto. Penginderaan Jauh Dasar. Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s